Di Tepian Jurang

Untuk seseorang yang hampir-hampir saja berputus asa, Yang seakan-akan hidupnya berakhir esok pagi, Yang merasa dirinyalah yang paling kurang beruntung di dunia ini, Yang menganggap duka dan lukanya yang paling dalam saat ini, Aku ingin kamu buka jendela... Menengok awan gelap di angkasa, yang kemudian setelahnya mentari bersinar kembali. Itu bukan hanya kejadian alam, tapi sebuah pengingat bahwa akan silih berganti datang badai dan damai, agar ada keseimbangan di bumi. Hidupmu pun begitu. Duka lara dan bahagia takkan pernah kekal... Akan silih berganti mendatangimu yang mungkin kini sudah sangat lelah dengan hidup. Itu juga keseimbangan. Biar kamu tetap layak disebut manusia. Bukan kamu tak berhak dapat bahagia seperti yang lain, Hanya saja "waktumu" belum tiba. Toh, yang kamu lihat diluar sana sumringah, bisa jadi hidupnya lebih berbadai ketimbang kamu. Dia cuman tak ingin dunia luar tahu perihalnya. Untukmu yang kini diam-diam menghapus jejak tangis di p...