Selangkah untuk Sebuah Mimpi
Setidaknya saya sudah mau melangkah, meski baru sedepa. Tak apa. Bukan soal seberapa jauh. Tapi seberapa berani untuk memulai. Pun nantinya tak sesuai ekspektasi, saya tetap mengharapkan pahala atas niat. Menjadi orang yang berbeda, apalagi di sebuah pedalaman yang masih asing perihal perubahan dan kemajuan berpikir, sangat sulit. Apalagi sendiri. Yang ini sedari dulu jadi keluhan. Wkwk. Inginnya segera dapat parnert yang sepemikiran, sejalan, seiya sekata. Tapi, namanya idealisme itu, tak segampang membalikkan telapak tangan. Sekian perjalanan saya mencari, yang sesuai kriteria belum ketemu. Entah ada di belahan bumi mana. Ketika ada yang menawari sebagai parnert, saya selalu berprasangka, mungkin yang saya inginkan bukan yang saya butuhkan, sehingga berlapang dada untuk menerima. Lalu akhirnya kandas di awal atau pertengahan jalan. Berkali-kali. Sangat kerap terjadi. Mungkin menurunkan kriteria bukan lagi solusi. Karena bagaimanapun inginnya, termasuk meruntuhkan idealisme...