Posts

Showing posts with the label Opini

About Marriage (Refleksi diri)

Image
About Marriage (Sebuah catatan untuk diri agar tak berekspektasi tinggi mengenai pernikahan) Saya sampai di sebuah titik kesadaran bahwa pernikahan bukanlah suatu pencapaian. Pernikahan hanyalah bagian dari tahapan hidup seorang manusia. Sebagaimana kelahiran, proses pendewasaan, menikah, punya anak, dan lainnya.  Pernikahan adalah perjalanan bukan destinasi. Setidaknya begitu kata mbak Rinai Hujan dalam sebuah novel gagalnya. Wkwk. Dan menjadikan pernikahan adalah tujuan mencapai kebahagiaan salah besar, menurut saya pribadi. Kenapa? Karena ketika kita sandarkan kebahagiaan pada pernikahan, apakah nantinya pernikahan itu sesuai ekspektasi atau justru jauh dari apa yang kita khayalkan selama ini? Kita tak pernah tahu sebelum menjalaninya. Karena di dalam pernikahan tentu saja bukan hanya tentang romantisme dua manusia. Lebih kompleks dan tak lepas dari ujian. Pun sama halnya ketika kita menyandarkan kebahagiaan pada seseorang yang nantinya akan jadi pasangan kita, apakah ketika nam...

Pandemi dan Hijab

Image
  Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Begitu kalimat klasik yang sering kita dengar. Pandemi ini mengajarkan banyak hal ke semua orang. Bagi saya pribadi  yang paling saya syukuri adalah soal hijab.  Orang-orang sudah tidak sembarangan berjabat tangan atau bersentuhan dengan lawan jenis. Beberapa oknum yang dulu mengejek wanita bercadar, kini menutup wajah-wajah mereka dengan masker.  Pengalaman menarik ketika saya berlebaran di salah satu kota di Sulawesi Selatan. Wanita-wanita yang hadir melaksanakan sholat Ied menutup wajah-wajah mereka dengan cadar seperti yang sering saya kenakan waktu jaman kuliah. Hampir semua memakainya. Termasuk kakak ipar saya dan saudara-saudara perempuannya. Hanya satu dua orang yang memakai masker. Memakai masker memang bikin engap, sih. Lebih nyaman memakai cadar lepas. Apalagi selama mendirikan sholat, wajib tetap memakai masker.  Ketika menyaksikan ini, dalam hati saya bergumam "akhirnya, penutup wajah menggema di seluruh negeri...

Masakan Micin #opini

Image
Beberapa hari yang lalu, ipar saya mentraktir seporsi mie ayam. Yang katanya "mie ayam paling enak" di wilayah kami. Setelah mencicipi, hmm... Enak sih, tapi ada rasa yang tertinggal di tenggorokan, dan saya bisa rasakan makanan tersebut kebanyakan Micin. (Ini bukan judge, ya. Coba aja deh kalau masak kasih Micin banyak, after taste nya bakal ada yang nge-ganjal di tenggorokan). Entah kenapa, di mindset beberapa orang, banyak Micin itu bikin enak. Justru saya pikir malah bikin eneg. Saya bukan haters Micin. Karena makanan yang mengandung Micin kayak Indomie, snack-snack yang gurih, saya masih makan dan dinikmati. Karena menurut saya Micinnya sesuai standar keamanan pangan (begitu dulu yang saya pelajari sewaktu SMK). Tapi, jika masakan yang overdosis Micin, biar makin enak "katanya", itu nggak sih buat saya. Pernah pula, di rumah diadakan acara, dan saya menemani ibu-ibu tetangga untuk masak-masak. Subhanallah, mereka masak sayur pake Micin dan ditambah lagi ...

Dilemanya sektor pendidikan di tengah pandemi

Saatnya ngomong serius lagi di blog ini. Grup WhatsApp sudah heboh karena tahun ajaran baru tak lama lagi akan datang. Sementara pemerintah belum juga ada keputusan jelas dan solusi bagaimana anak-anak bisa tetap belajar secara maksimal di tengah pandemi.  Sangat dilema. Bagaimana tidak, khususnya kami pendidik anak usia Dini, begitu kesulitan terus menerus mengajar secara daring. Selain anak-anak begitu manja jika bersama orangtuanya, mereka juga sulit memahami apa yang disampaikan jika tidak bersentuhan langsung dengan guru-gurunya. Berbeda dengan anak yang sudah baligh. Seperti siswa SMA atau mahasiswa.  Tetapi jikalau pun ingin dipaksakan anak-anak datang ke sekolah, resikonya juga terlalu besar. Tangan guru yang cuman dua mau mengawasi dan menjaga anak sepuluh agar mereka jaga jarak dan memperhatikan protokol kesehatan, bukan hal yang mudah.  Anak-anak dan orangtua siswa diperhadapkan pada pilihan, mereka harus tetap belajar di rumah dengan segala kondisi yang terbat...

#copas

Image
Entah mungkin hanya saya yang begitu greget sama tukang copas di sosial media tanpa mencantumkan sumber penulisnya. Apalagi medsos yang bernama fesbuk. Memang kita ketahui bersama, jejaring sosial tersebut dijangkau oleh semua kalangan. Bocah, emak-emak, bapak-bapak. Dari kalangan menengah atas, sampai kalangan menengah kebawah. Itulah juga kenapa fesbuk menjadi sumber berita kehoax-an yg sangat tinggi. Lah, gimana tidak, warganya memang tukang copas. Di medsos lain juga ada, meski tidak sebesar fesbuk. Sudah dua kali saya "memarahi" orang gara-gara saya dapati tulisannya copas. salah satunya adalah copas artikel dakwah, dan artikel tersebut sangat saya kenali dan tahu siapa penulis aslinya. Ketika saya bertanya di kolom komentar, benarkah dugaan saya bahwa tulisan tersebut tulisan orang yang saya maksud? Dia menjawab benar. Oh ya, sebelum saya mengetik komentar saya, sudah ada komentar lain yang bertengger disana dan meminta izin untuk mengcopas tulisan tersebut. Dan kalimat...

Kisah dibalik cerpen "Kalau jodoh, Mau Kemana?"

Image
Awalnya nggak nyangka kalau cerpen "seberantakan" itu akhirnya bisa lolos moderasi di cerpenmu.com . ( penulisan judulnya saja, udah salah. Apalagi isinya yang banyak typo. Haha). saya menulis cerpen ini sebulan sebelum wisuda alias disaat lagi sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Saya lupa kapan tepatnya saya mengirimkan cerpen ini, tapi di website cerpenmu.com tertulis lolos moderasi 15 April 2017.  Jadi, cerita tersebut terinspirasi dari gebetan saya di bangku menengah pertama. Wkwk. Saking nggak bisa lupanya sama doi hingga pada waktu saya menulis cerpen itu, saya masih mengimajinasikannya datang ke saya dengan menjadi sosok yang saya inginkan. Karena sampai saat ini pun, saya masih mengikuti perjalanan hidupnya yang "begitu - begitu saja". Jadi, soal doi tiba - tiba sudah "berubah" cuman kehaluan saya doang. Hihi. Cerpen ini di publikasikan pertama kali di blog saya sendiri pada bulan April 2016. Kemudian dipublish di website cerpenmu.com . lalu di blo...

Di Rumah Saja

Image
Entah sudah berapa kali menangis hari ini. Tiap kali baca atau nonton berita soal covid-19 langsung nyesek. Apalagi mengingat orang - orang yang diluar sana sedang berjuang. Paramedis, pemerintah, para pencari nafkah yang benar - benar nggak bisa #stayathome demi keluarga mereka.  Sungguh, masih banyak orang di negeri ini begitu mulia hatinya. Para relawan dan donatur, semua berlomba - lomba mengambil bagian. Kita semua pun harus ambil bagian ditengah kondisi ini. Apapun. Kalau kita nggak bisa dan nggak punya duit buat disumbangkan minimal kita tetap di rumah, untuk mengurangi resiko penularan. Nggak usah kegatelan buat keluar nyari angin, nongki ke rumah teman, atau hal yang tidak penting lainnya. Kasihanilah dokter dan perawat di rumah sakit, dan juga pemimpin kita yang sibuk ngurus hal ini. Sayangi keluarga dan orang - orang terdekat kita dengan #stayathome. Kita semua bisa mengambil bagian demi kemaslahatan diri, keluarga, dan negeri ini.  . . . 📷...

Opini : tentang Virus Corona

Belakangan ini, dunia dihebohkan dengan munculnya sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus. Orang - orang menyebutnya sebagai virus Corona. Muncul pertama kali di Wuhan, China. Lalu merembet ke negara - negara lain, termasuk negeri kita yang tercinta, Indonesia.  Berbagai macam tanggapan orang - orang akan hal ini. Dari yang terlalu berlebihan hingga yang terlalu Santuy, sangat Indonesia sekali. Orang - orang yang lebay bahkan mudah sekali percaya berita - berita hoax yang tersebar di grup - grup WhatsApp dan Facebook. Hal ini yang bikin saya gregetan. Masalahnya, di grup yang saya masuki pun ada. Padahal di dalamnya saya pikir adalah orang - orang yang berintelektual. Hadeuh. (Berita hoax yang soal GERD setelah suami BCL meninggal pun ada juga di grup itu. Bikin saya pengen gigit langsung rempah - rempahnya JSR. Wkwkwk). Maksudku saya toh (kata orang Makassar yang tukang boros kata), tidak usah menyebarkan informasi yang belum jelas. Situ kan pada sarjana, nuntut ilmu aga...

Mendengar Puisi (Senja yang Hilang)

Image
Kembali melow diiringi memori - memori lalu. Sembarinya mendengar beberapa puisi dari channel Rhia Lestari diantaranya "senja yang hilang", "untuk hari yang patah", dan "tentang kepergianmu". Dibawah ini saya tuliskan puisi - puisi tersebut, biar kita bisa sama - sama ambyar, guys. Senja yang Hilang Ditulis oleh : Jumadin Baha, Fadilah Puspita, Delia Oktaviani Fazira, Usni Agustiani, Suci Mardatillah, Sara Nirmala Aku pernah bahagia karena mencintai Tapi mungkin cintaku keliru pada orang yang salah. Aku pernah peduli tapi aku diabaikan Aku pernah tulus tapi tak dipedulikan Aku pernah setia tapi dikecewakan Bahkan aku tidak pernah menuntut ini itu Tapi aku dilukai Aku pernah merencanakan hal - hal yang ingin kulalui dengan seseorang yang kucintai suatu hari nanti, namun Tuhan berkehendak lain. Disaat aku mencoba mempercayai apa yang dia katakan, Tuhan membuat ia pergi dari hidupku. Bahkan jauh dimana saat rencana itu belum tertuntaskan. ...

Ayah, (Katanya) Cinta Pertama Seorang Anak Perempuan

Image
Beberapa kali aku sudah bercerita tentang Ibu. Dan hari ini aku ingin bercerita tentang sosok yang disebut Ayah.  Banyak anak perempuan yang begitu mengagumi Ayahnya. Hingga sering muncul judul romantis "Ayah adalah cinta pertama bagiku". Tapi, hal ini tidak berlaku bagi seorang perempuan yang menulis ini.  Ibu pernah bercerita, bahwa sewaktu kecil, ketika Ayah merantau ke negeri Jiran, aku dilanda demam berhari-hari. Konon, aku rindu kepada Ayah. Seiring waktu yang menjadikanku dewasa, aku yang justru merantau bertahun-tahun. Pulang hanya saat lebaran idul Fitri. Meski kutahu, kepulanganku tak pernah diharapkan oleh siapa pun yang ada di rumah, tak disambut hangat sebagaimana jika saudaraku yang lain pulang dari rantauan. Aku tahu alasannya, karena aku bukan anak yang membanggakan Ayah. Tak ada rindu buatku. Keadaan yang membuatku terlampau dewasa melebihi usiaku. Dan kerap pikiran-pikiran jahat itu memenuhi otakku setelah beranjak remaja "sejak kecil, Ayah...

Teman Curhat

Image
Saya bukan jenis orang yang bergaul dengan siapa saja atau punya cirlce pertemanan yang luas. Teman saya sebatas teman sekolah, teman kuliah, teman seprofesi, dan beberapa yang dari organisasi yang hingga sekarang masih menjalin ukhuwah.  Dan dari sedikitnya teman tersebut tidak semua saya bisa bercerita bebas, meluahkan segala permasalahan hidup atau persoalan hati. Hanya ke satu atau dua orang yang memang sangat saya percaya, dan saya nyaman untuk bercerita kepada mereka.  Teman yang kesehariannya bersama saya pun belum tentu saya bercerita ke dia persoalan saya. Teman yang dari luar orang lihat seperti sahabat juga belum tentu saya jadikan tempat curhat. Jika kalian punya teman curhat, saya ingin bertanya, kenapa kalian curhat kepadanya? Kenapa bukan kepada yang lain?  Meski saya tidak punya banyak "tong sampah" diluar sana, tak dipungkiri banyak teman-teman justru nyamannya menjadikan saya sebagai "tong sampah" mereka. Bukan karena saya besar ke...

Fiksi dan Kontroversi Tentangnya

Image
Yang sudah ngaji, pasti pernah baca kalau ada fatwa yang mengharamkan tentang menulis cerita fiktif atau tidak nyata. Hal inilah yang membuat saya begitu galau dari beberapa tahun lalu setelah membaca hal tersebut. Meskipun itu bukan 'ijma. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, adapula yang membolehkan dengan syarat tertentu (Syaikh Al Utsaimin). I know, tentunya ada manfaat dan mudharat dari pelarangan itu oleh ulama. Selengkapnya bisa dibaca disini : https://ustadzaris.com/haramkah-cerita-fiksi https://bimbinganislam.com/hukum-berprofesi-sebagai-penulis-fiksi-islam / Lepas dari hal tersebut, saya ingin membahas soal beberapa karya fiksi yang memang sangat bagus (menurut saya). Diantaranya buku-buku Tere Liye. Saya hampir sudah menamatkan semua novel karya bang Tere. Meski ada beberapa judul yang tentu saya tidak sejalan dengannya. Namun, secara keseluruhan, nilai-nilai disampaikan didalamnya dibungkus sangat apik. Tentang bagaimana kita memandang hidup den...

Introvert dengan Dunianya (suara hati seorang Introvert)

Image
Mungkin banyak yang bertanya, apa yang dilakukan si penyendiri itu di dalam rumahnya? Betah sekali berlama-lama di dalam tanpa melihat dunia luar atau berjalan-jalan menikmati suatu tempat, nongkrong bersama teman, bercengkrama. Si pengamat yang punya dunianya sendiri. Asyik dengan dirinya tanpa memperdulikan hiruk-pikuk dunia di sekitarnya. Sibuk merangkai segala cerita di otaknya. Bermonolog sendiri. Si pendiam yang tak suka basa-basi dengan orang-orang yang tak punya topik penting untuk dibahas. Yang akan tiba-tiba mencengangkan ketika berbicara banyak hal pada topik yang menarik dan berguna menurutnya. Bukan obrolan sia-sia, sekadar mengisi waktu, membuang energi suara, atau basa-basi berlebihan, yang malah membuatnya jadi tak nyaman. Ia Ingin segera mengakhiri percakapan seperti itu. Dia si pemikir yang sangat detail merencanakan sesuatu. Menyusun segala hal sebaik-baiknya.  Dia tak akan bosan meski harus "dikurung" dalam rumah 24 jam bahkan sepekan sekal...

Mental Judgement (Sebuah Opini)

Image
Entah sejak kapan kata ini begitu dekat dengan warga negara berflower ini. Sadar atau tidak sadar, kerap kita menjadi orang-orang yang mengadili seseorang secara sepihak tanpa mencari tahu alasan atau sebab mengapa dan kenapa hal itu bisa terjadi.  Saya pun pernah melakukan ini. Dan saya sangat menyesal karena telah memelihara pikiran negatif tersebut dalam otak saya.  Ceritanya, saya memiliki 10 murid dengan berbagai karakter dan kepribadian yang berbeda. Ada yang cepat tanggap, ada yang lemot, ada yang harus di dorong sedemikian rupa agar mau belajar, ada yang berinisiatif sendiri, dll. Nah, salah seorang murid perempuan  saya, subhanallah, setiap saya ajari membaca selalu lupa. Saya ajari hari ini, besok lupa. Begitu seterusnya hingga saya lelah sendiri dan membiarkan hal tersebut berlangsung selama satu semester. Saya tahu penyebab utamanya, dia tidak mengulang apa yang diajarkan di sekolah di rumahnya. Sudah pernah saya memberi catatan khusus untuk orangtu...

Sensitif

Image
Entah kenapa akhir-akhir ini saya begitu sensitif dengan berbagai postingan orang-orang di media sosial dan komentar-komentar julid orang-orang di dunia nyata. Mungkin permasalahan yang menimpa saya baru-baru ini bikin saya seperti induk ayam yang diganggu anak-anaknya. Pengennya langsung matok dan kejar orang. Wkwkwk.  Saya memandang orang-orang diluar sana itu selalu ingin memamerkan kebahagiaannya dengan pasangannya. Tuuh kan, pasti kalian mau bilang "situnya aja yang sirik karena gak punya pasangan". Iya iya, tau. Saya sendiri, Jomblo, Tuna asmara. Atau apalah namanya itu. Tapi, memangnya perlu ya memamerkan kebaikan, keromantisan, kebahagiaan kalian kepada yang belum menikah. Kalian itu sebenarnya punya hati, nggak sih?  Belum lagi orang-orang yang jadiin kita kayak babunya. Alias tukang nyuruh-nyuruh. "Nikah sana. Biar nggak kesepian!". Pengen saya teriak di kupingnya pake toak "WEY, KAU KIRA SAYA TIDAK MAU MENIKAH! HA? SAYA JUGA MAU. KALAU BO...

Memotivasi atau Membully?!

Image
Setiap orang menjalani takdir yang berbeda-beda. Entah perihal rezeki, maut, atau pun jodoh. Saya ingin mengerucutkan topik ini pada "perempuan". Beberapa dari kaum kami memiliki takdir menikah di usia dini. Bahkan di kampung, kebanyakan mereka dinikahkan di usia masih sekolah menengah pertama atau atas. Ada yang menikah ketika masih duduk di bangku kuliah, ada juga yang langsung di lamar setelah wisuda. Tetapi, tidak sedikit yang "menjalani" takdirnya menjadi wanita karier setelah menyelesaikan kuliah. Kenapa saya memilih kata "menjalani" bukan "memilih"? Karena pada hakikatnya setiap usaha yang kita upayakan ada campur tangan oleh yang Maha Kuasa. Tak juga saya katakan bahwa manusia tidak bisa memilih jalan hidupnya, ataukah manusia sebebas-bebasnya penentu takdir yang dia jalani. Tentu saja hal ini berimbang. Usaha dan juga takdir yang telah digariskan. Dan alasan lain dari pilihan kata antara "menjalani" atau "memilih...

Usia kritis

Image
Berbagai macam problematika hidup terus bergulir di depan mataku. Dan seperti yang sudah-sudah, setelah mengamati, memikirkan lebih dalam, maka akan tertuang dalam bentuk narasi di "rumah" ini.  Bagi seorang gadis, usia mendekati angka 30 adalah usia yang membuat hati berdebar-debar cemas tak menentu. Kapankah ada seseorang yang akan datang mengetuk pintu rumahnya? Beberapa teman di sekitar saya juga mengalami. Jika terlihat dari luar, mereka santai saja seperti tak terbebani. Tetapi, dikorek sedikit, mereka akan menuangkan isi hatinya yang terdalam. Keresahan akan pendamping hidup yang belum juga datang.  Secara khusus bagi perempuan bugis Makassar, mungkin akan terbersit di benak kita "panaiknya tinggi, sih. Makanya gak kawin-kawin". Awalnya, saya pun berfikir demikian. Tapi tidak setelah berdiskusi dengan satu dua orang dari mereka. Keluarga mereka -alhamdulillah-  tidak memberatkan. Baik dari segi uang Panaik atau pun adat istiadat daerahnya. Lalu a...

Muslimah dengan dirinya (Muslimah kok bau?)

Image
Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya sudah ingin menuliskan ini. Sebelum adanya tulisan viral tentang wanita muslimah yang "bau". Namun, baru beberapa kalimat yang saya ketik, saya urung. Karena khawatir ditanggapi negative oleh sebagian warga +62. Tahulah jaman sekarang. Netizen itu mudah baper. Wkwk. Kok bisa kefikiran ingin menuliskan hal tersebut? Jadi gini, saya pernah mendapati beberapa kali wanita yang kebetulan muslimah berjilbab besar memiliki "aroma semerbak" dari tubuhnya. Sungguh hal yang sangat menyakiti hidung saya ketika itu. Ingin berkata jujur kepada mereka, nanti tersinggung dan bikin sakit hati. Jadi saya pendam uneg2 ini, dan sekarang akan saya muntahkan. Haha.  Nah, berhubung sudah ada yang memulai hal itu di KBM (saya juga masuk di komunitas tsb. Meski belum pernah menulis disana. Sekedar jadi pembaca. Tapi karena hampir 5 bulan lamanya saya tidak aktif lagi di dunia per-facebookan, akhirnya berita yang viral itu saya dapat hany...

Introvert, sebuah karakter yang dianggap aneh?

Image
#psikologi2 Menjadi pendidik membuat saya menjadi dekat dengan dua dunia baru, yaitu dunia parenting dan dunia psikologi. Dua hal yang membuat saya begitu terkesan. Bahkan menjadi 'ilmu baru yang saya sangat sukai. Baru-baru ini, saya membaca artikel yang berkaitan salah satu hal diatas, psikologi. Yang tentunya ada kena mengena dengan saye, kata orang Melayu. Yup, introvert. Sebuah kepribadian manusia yang selalu dianggap beda oleh orang kebanyakan. Kenapa?  Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dulu ciri-ciri sang introvert.  Dari artikel dunia introvert : https://dunia-introvert.blogspot.com/2017/10/masalah-kesalahpahaman-terhadap-introvert.html?showComment=1560931304819&m=1#c6841512170536833387 Tambahan dari saya:  1. introvert tidak menyukai nongkrong terlalu lama. Karena mereka selalu butuh ruang privasi untuk sendiri. Dan kesendirian adalah hal yang membuat mereka nyaman. Bagi mereka hiruk pikuk bisa membuat mereka "gil...

Untuk yang Belum Menikah

Image
Masa muda adalah masa dimana seseorang bisa melakukan banyak hal. Mengasah potensi diri dan mengembangkannya. Menghasilkan hal yang bermanfaat, baik untuk diri maupun untuk sekitar. Masa muda juga menjadi cobaan berat. Dimana segala hal menjadi bebas karena masih minim tanggung jawab. Terutama yang masih lajang atau bujang. Bagi yang sudah mengenal Sunnah, atau sudah hijrah, atau apalah istilahnya. Tentu masa muda mereka akan pergunakan sebaik-baiknya. Daily activity -nya akan penuh dengan hal-hal yang baik. Giat menuntut 'ilmu, giat bekerja, giat beribadah. Kenapa harus di masa muda, atau lebih kita kerucutkan, kenapa harus sebelum menikah ghiroh tersebut harus lebih besar? Karena setelah menikah nikmat waktu luang itu akan berkurang. Bagi perempuan, setelah menikah waktu untuk duduk di majelis 'ilmu akan tersita dengan mengurusi anak, rumah, dan melayani suami. Sedangkan bagi laki-laki, hidupnya sudah takkan sama bebasnya seperti ketika masih bujang. Dia ha...