Posts

Showing posts with the label Cerpen

Sebuah Surat #5

Image
10 Januari 2020 Wa'alaikum salam Kau memang selalu terlambat. Bahkan kini sangat terlambat. Suratmu baru sampai setelah 3 tahun. Lalu, aku harus bagaimana? Menunggumu di bandara seperti tahun-tahun yang menyedihkan itu? Aku bertahan tidak sebentar. Tapi kau tak pernah sekalipun memberi penjelasan dan kejelasan.  3 tahun lalu aku bertemu lelaki biasa. Sangat biasa bahkan. Tidak sepintar dirimu, tidak setampan dirimu, tidak semenarik dirimu ketika berbicara, tidak sepandai dirimu merangkai kata-kata manis, sungguh sangat biasa jika dibandingkan kau. Tapi dia punya satu hal yang tidak kau punya. Dia tidak terlambat. Dia tidak membiarkanku menunggu. Dia melamarku di hari wisuda S2ku. Kami menikah tepat di hari dimana kau pergi dan memintaku menunggu 3 tahun lagi.  Kau terlambat. Waktu dan kesempatan tak memihak padamu yang sempurna. Satu hal bisa kutulis sebagai pelajaran di surat ini, yang memiliki segalanya akan dikalahkan oleh yang biasa saja hanya dengan satu hal. Kesempatan. ...

Sebuah Surat #4

Image
Kota Kita, 2 Oktober 2017 Assalamu 'alaikum  Nay, surat yang kemarin sepertinya belum terbaca. Saya mengirimkannya berkali-kali di emailmu, tapi sepertinya kamu sudah mengganti alamat email. Saya harus mengirimkannya kemana, Nay? Alamat lamamu juga ternyata sudah tak berpenghuni. Saya benar-benar kehilangan kamu, Nay. Kontak teman-teman lama juga tak ada yang tahu kabarmu.  Besok saya akan berangkat lagi ke Aussie. Saya dapat kontrak disana 3 tahun. Saya sangat berharap ketika pulang kamu sudah bisa kutemui.  Salam cinta dan Rindu yang tak terbendung, Akhsa.

Cerpen_Takdirku

Image
Hidupku sudah berubah 180% dimulai dari detik dimana seseorang mengucapkan namaku lengkap dengan nama bapakku di depan penghulu.  Kini dia sudah di sampingku, berbicara apa saja untuk mengakrabkan diri. Sementara aku sibuk dengan gawai di tangan membalas chat teman-teman yang masuk.  Betapa tidak nyamannya suasana sekarang. Sepertinya aku akan kehilangan kedamaian dalam hidupku. Belum lagi, aku harus berusaha lebih keras untuk menerima orang yang sama sekali tidak kuinginkan jadi pendampingku. Benarkah ini sudah menjadi jalan-Nya? Tapi kenapa hatiku masih saja berat untuk menerima. Beberapa jam menjadi istrinya saja sudah membuatku mengomel dalam hati. Kami butuh ini, dia tidak bisa membeli. Kami butuh itu, dia tak bisa mencukupi. Dia benar-benar lelaki miskin. Impianku untuk pensiun dari tempat kerja setelah menikah sudah jadi angan-angan kosong belaka.  Lagi pula aku merasa tidak perlu menaruh hormat padanya. Toh dia jauh lebih mudah dibawahku.  Apa ...

Kisah di Bulan November (Ann, teman kecilku)-CERPEN

Image
            Ini kisah teman masa kecilku.   Seorang   gadis yang biasa kupanggil “Ann”. Aku baru bertemu kembali dengannya setelah 15 tahun. Dia teman bermainku sewaktu kecil, teman sekolah, dan masih ada hubungan kekerabatan. Dia dikenal sebagai anak yang pintar di sekolah, dan teman sepermainan yang menyenangkan karena dia punya banyak jenis mainan di rumahnya. Ketika berumur 8 tahun, terakhir aku melihatnya, dia masih berpenampilan seperti anak laki-laki, dengan rambut cepak. Maklum, saudara-saudaranya semua laki-laki. Dia kemudian ke kota, tinggal disana, bersekolah lalu   bekerja. Namun, yang membuatku tercengang adalah ketika bertemu kembali dengannya setelah belasan tahun, dia berubah drastis. Dia menjelma menjadi wanita dewasa yang begitu anggun berbalut pakaian wanita sholihah yang longgar dan terjulur. Kulitnya bersih sekali. Padahal, kuingat dahulu zaman kecil, kulitku jauh lebih cerah ketimbang kul...

Keputusan Hati_Cerpen

Image
Hari ini aku akan mengambil keputusan besar dalam hidupku. Yang menentukan nasibku di masa depan. Tentang sebuah pilihan.  Apakah memang hidup ini hanya seputar memilih dan memilih? Ataukah hanya soal tiada pilihan lain untuk memilih? Kalian bingung? Hidupku memang rumit.  "Dek, rombongan sudah sampai." Aku tersentak dari lamunanku. Suara kakak lelakiku bagaikan sebuah berita besar yang melemaskan otot-otot tubuhku. Hingar-bingar suara di ruang tamu semakin menambah pacu detak jantungku. Ya, aku harus menentukannya hari ini. Bukan perkara mudah. Karena ini adalah pilihan untuk seumur hidup. Sebelum kumelangkah ke ruang tamu, dengan jawaban "ya" atau "tidak", mari kukisahkan tentang seseorang yang masih memiliki hatiku saat ini. Singkatnya, Kami bertemu dalam sebuah komunitas sosial dan pendidikan, lalu akhirnya menjadi teman dekat. Dia sudah seperti kakak Lelakiku. Tempat curhat persoalan hati, berbagi cerita, menger...

Bintang Kejora_Cerpen

Image
Namanya Bintang. Anak perempuan yang baru beberapa hari yang lalu pindah disebelah rumahku. Dia cantik. Kulitnya putih. Tinggi namun agak kurus. Rambutnya bergelombang. Kalau tersenyum terlihat gigi taringnya yang menyembul. Sangat manis. Dia bukan anak periang seperti teman sebayaku yang lain. Cenderung pendiam tapi mudah disayangi oleh orang-orang disekelilingku. Bahkan Ibuku lebih perhatian sama dia ketimbang aku. Seperti hari keduanya masuk ke sekolahku. Karena dia belum memiliki sepeda, Ibu menyuruhku memboncengnya. Tapi dasar anak tidak tahu terima kasih. Dia malah tidak mau. Sampai-sampai matanya berkaca-kaca karena dipaksa oleh mamanya untuk ikut denganku. Huuh! Apa aku sejelek itu?! Akhirnya, ibu menyuruhku meminjamkan sepedaku padanya. Dan kalian tahu, aku sendiri harus jalan kaki ke sekolah. Apa aku marah padanya? Tentu saja tidak. Aku tetap mengajaknya bermain sepulang sekolah, meski pun dia enggan bermain denganku. Teman-teman sekelasku yang laki-laki banyak yan...

Dialog dua Ana' Dara

Image
Tenri : (masuk ke bilik Besse' secara tiba-tiba) siapa tadi laki-laki yang datang itu? Laki-laki keberapa yang sudah kau patahkan tunas harapannya yang sementara kuncup? Besse': (bergeming tanpa kata. Hanya menengok sebentar kemudian fokus kembali membaca buku) Tenri : hey, Andi Besse'! Jawab pertanyaanku. Sudahi dulu membacamu. Apa tak bosan kau mengurung diri di bilik ini dengan membaca, membaca, dan membaca. (mengambil buku ditangan Besse' dan meletakkannya di tempat tidur. Lalu mengambil tempat duduk di samping Besse'). Besse' : (menghela nafas) "saya tidak tahu Andi Tenri, siapa lelaki itu. Dan saya juga tidak menghitung, dia lelaki ke berapa yang  saya patahkan tunas pengharapannya yang mulai kuncup. Asal kau tahu, saya tidak pernah punya niat untuk menyakiti mereka. Merekalah yang datang ke rumah ini tanpa saya minta." Tenri : lancang sekali laki-laki itu mendatangimu. Tidak kuli, pemakan gaji di kebun, tukang bakso, tukang jahit sepat...

Wanita Kedua (cerpen)

Image
Dia melangkah gugup. Debaran jantungnya berirama cepat, seakan berpacu dengan waktu. Bulir-bulir keringat pun mulai muncul di pelipisnya. Ini hari yang berat baginya. Tapi, ia harus tetap melangkah. Diketuknya daun pintu yang ada dihadapannya, lalu membalikkan badan. Terdengar suara langkah kaki menyambut. Pintu berderit. Sosok lelaki paruh baya muncul dibalik pintu. Kumis dan janggutnya tampak putih termakan usia. Tapi garis-garis ketampanan sewaktu muda, masih tersisa di wajahnya. Lelaki itu mengerutkan kening, tanda belum mengenal siapa yang datang bertamu. "Assalamu 'alaikum" sapa si tamu yang masih saja berdiri di ambang pintu. "Wa'alaikum salam. Cari siapa?" Suara yang cukup berwibawa namun terdengar tegas. Membuat nyali sang tamu mulai menciut. "Benar ini rumahnya pak Umar?" Si tamu memastikan jika rumah yang didatangi tak salah alamat. "Saya sendiri." Jawab Lelaki sang empunya rumah. "Saya ada perlu dengan Bapak. Bol...

Not Us (Stories Of Satria) - CERPEN

            Ia datang, dengan sejuta pesona yang ia bawa. Berhasil membuatku ingin segera mengakhiri masa studi dan datang ke orangtuanya untuk melamarnya. Kau tahu kawan, ia tak sama dengan gadis-gadis yang lain yang ada di jurusan, atau bahkan sefakultasku. Ia berbeda. Sungguh berbeda. Kecantikannya tersembunyi bagai mutiara di dasar lautan. Tak tergapai, kecuali yang bersedia menyelami samudera. Ia terjaga. Tak pernah menyapa lawan jenis, terbahak-bahak, atau nongki-nongki cantik dipelataran kampus, sebagaimana teman-teman perempuannya yang lain. Namun, itulah yang menjadikannya spesial. Mataku tak bisa menatapnya lama. Karena ia seumpama matahari, terlalu silau untuk kupandangi. Tapi, jangan tanya hatiku. Berkebat-kebit tak karuan, ketika mata kuliah portofolio –mata kuliah yang aku sekelas dengannya- tiba. Kami tak pernah bertegur sapa. Karena, ia memang tak mau beritentraksi dengan lelaki mana pun di kelas, kecuali jika dosen ...