Posts

Jejak-jejak yg tertinggal

Image
Bagi saya, masa lalu dikenang bukan untuk dirutuki. Toh, bagaimana pun kita sesali setiap yg telah terjadi, kesalahan, kelalaian, kebodohan, waktu tidak bisa berbalik arah. Kita hanya bisa melangkah ke depan. Menengok kebelakang hanya untuk menjadikannya bahan refleksi, muhasabah, dan pembelajaran untuk masa yang akan datang. Setiap kisah yang telah lewat, dari perihal pertemanan, persahabatan, kerjaan, sekolahan, perkuliahan, keluarga, sampai soalan hati, semuanya punya makna sendiri. Sekali pun itu membuat derai tangis, terbahak, terpingkal, tersenyum malu (malu-maluin), terlonjak bahagia sampai akhirnya nyunsep saking sedihnya. Saya menikmati semuanya setelah terlewati. Hihi. Padahal saat dijalani, adakalanya ingin menyerah saja pada hidup. Na'udzubillah. Terpuruk dari hal yg paling terpuruk pun sudah pernah. Sedih yang sampai sesegukan dan nyeseknya minta ampun, sudah pernah. Patah hati sampai kapok jatuh hati dan main hati, pun pernah. Jika kalian menelusuri "Rinai...

Hadiah Terbaik dibalik Musibah

Image
Chat-chat berdatangan sepulang saya dari Rumah Sakit. Teman-teman yang mendengar saya dirawat, langsung menghubungi saya satu per satu. Bahkan "mantan sahabat" membuat status yang begitu mengharukan. Sekali pun dia tak menghubungi saya langsung menanyakan kabar seperti yang lain, saya tahu dia masih menyayangi saya seperti dulu.     Saya tak bisa menahan haru dan sesak malam itu, ketika salah seorang teman dekat yang juga satu kontrakan saya dahulu di jaman kuliah sangat ingin membantu tapi tak bisa karena suatu kondisi. Tangis saya pecah begitu saja, begitu menyadari masih banyak orang-orang yang begitu peduli dan menyayangi saya disaat yang bersamaan saya merasa tersisihkan ditengah keluarga. Ya Allah... Terima kasih sudah mengirimkan mereka untuk saya. :') Sungguh, banyak sekali orang-orang tulus di sekitar kita, hanya saja terkadang kita tak menyadari itu. Kita malah selalu mencari-cari kesalahan teman-teman, susah memaafkan, suka mende...

Nikmat Sehat (Laa ba'sa Thohurun Insya Allah)

Image
Semuanya seperti tiba-tiba, mendadak dan saya tidak mempersiapkan apa-apa selain kepasrahan. Mungkin begitu pula kematian jika menjemput. Paginya saya masih menikmati makanan dengan lahap. Sayur bening kacang ijo kesukaan dan sambel pete, mengajar dengan riang, bercanda dan bermain dengan anak-anak murid. Siangnya perasaan tidak enak mulai muncul, hingga beberapa menit kemudian satu tempat kerja sudah panik melihat saya semaput hampir tak sadarkan diri di depan toilet.  ‌ Di ruangan putih itu, yang saya tidak pernah berharap untuk berada di dalamnya sebagai pesakitan, saya tergeletak tak berdaya. Menunggu berjam-jam pelayanan pihak rumah sakit, hingga akhirnya tangan saya sudah beku seperti mayat. Mungkin hidup saya akan berakhir hari ini, begitu fikir saya detik itu. Dan akhirnya, ketika jarum infus menusuk urat, saya tak merasakan sakit. Hebatnya sakit yang saya derita hingga rasa jarum itu hanya bagai gelitik. Malam menjelang. Bergantian orang-orang membesuk. Dar...

Ayam Geprek Catering Ukhti (mimpi yang belum Pupus)

Image
Saya baru selesai mengajar les. Sambil duduk menikmati Ayam goreng yang baru saja diantarkan pak ojol, tiba-tiba teringat tentang ayam geprek catering ukhti, dimana saya sebagai chef-nya ketika itu di tahun 2016.  Bermula dari ide ingin membuka usaha kecil-kecilan, dan minimnya lapangan kerja bagi akhawat ketika itu, akhirnya kami (saya dan 2 orang teman kost) memutuskan membuka catering untuk mahasiswa.  Malam itu kami rapat kecil-kecilan. Memikirkan makanan apa yang cocok untuk mahasiswa kampus, yang pastinya terjangkau untuk kantong dan nikmat di lidah. Salah satu dari kami bertiga baru pulang dari kampung Inggris di Jawa, katanya disana ada ayam goreng yang populer dan lumayan beda dengan ayam goreng biasanya. Namanya ayam geprek. Nama menu itu belum familiar seperti sekarang ini di kota kami. Bahkan sepertinya memang belum ada yang menjual menu tersebut. Akhirnya saya searching saat itu juga di yt. Meski pun teman saya yang baru pulang dari Jawa itu sudah men...

Fase #1 Bimbang

Image
Akhirnya saya berada di tahap ini. Tahap dimana segalanya penuh kebimbangan. Banyak sekali ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui. Apakah saya akan bahagia setelah menikah? Dan hati kecil saya menjawab "beban dan tanggung jawabmu akan bertambah". Saya khawatir dengan berbagai hal, yang mungkin lumrah dialami oleh orang-orang yang sudah berumah tangga. Berbeda pendapat dengan suami, cekcok dengan mertua, ketidakcocokan dengan saudara ipar, tidak diterima dikeluarga besar suami, masalah finansial, belum lagi masalah dengan keluarga sendiri tidak pernah kelar-kelar. Akankah saya bisa bersantai sebagaimana saya sekarang di kamar menscroll hape, tak dikejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, tak ada yang mengatur-atur, dan belum ada tanggung jawab.  Saya terlalu khawatir. Padahal jika saja saya yakin, tentu tidak ada perasaan seperti ini. Karena Allah sudah katakan bahwa pernikahan itu akan membawa ketenangan.  Diri, fase ini harusnya kau lewati dengan baik. B...

Wanita Jahat

Image
. . . Gelar yg pantas kusandang. Kuterbangkan hati seseorang ke awang-awang, lalu kuhempaskan di dasar bumi. Sakitnya turut kurasakan. Sedihnya juga kutanggung. Betapa pun ingin aku marah, kecewa, menangis, namun siapa yg harus kusalahkan atas semua kegagalan tersebut? Takdir? Ya Allah, jangan buatku berputus asa pada RahmatMu. Jika saja bisa, setiap pilihan hidupku hanyalah diriku yang memberi putusan, maka tentu tak ada yang ingin kukecewakan. Entah, dia orang keberapa yang kubuat gerimis hatinya, berkaca matanya, retak jiwanya. Sungguh, aku yang jahat. Segala amarah ini ingin kumuntahkan. Aku ingin berteriak pada dunia bahwa aku juga ingin bahagia. Ingin dibahagiakan dan membahagiakan. Betapa beruntung aku, selalu mendapat tempat di hati seseorang. Rasa bahagia yang sesaat. Fatamorgana. Karena ketika perlahan-lahan waktu beranjak, semakin kumendekat, bahagia itu pergi. Menghilang, meninggalkan bekas luka. Ya Allah, bolehkah kukatakan "aku benar-benar lelah sekarang...

Proklamasi Hati

Image
Kukatakan ini dengan kesadaran penuh, bahwa aku telah move on sebesar-besarnya, membuang masa lalu sejauh-jauhnya, mengubur kenangan pahit sedalam-dalamnya. Selamat datang dikau yg sekarang. Mari kita bergandeng tangan merancang masa depan bersama, meraih Jannah. Catatan proklamasi hati, Makassar 3 Dzulhijjah 1440 H