Posts

Separuh dari "aku ingin"

Image
  Perihal awan kepada hujan yang menjadikannya tiada, Hilang tapi memberi arti.  Kamu lega tidak? Setelah proses yang berlalu, Yang membuatmu sering sedu sedan diam-diam di sudut kamar atau pada sujud-sujud panjang? Kamu melewatinya kini. Sudah mampu tersenyum dan sedikit tertawa sembari menceritakannya pada sahabat. Perihal kayu kepada api yang menjadikannya abu, Sakit tapi penuh makna. Hikmah akan kamu rasakan setelah proses ujiannya terlewati.  Selamat untuk kamu. . . . https://pin.it/3jV5hSs

Draf yang menumpuk, project yang tak selesai-selesai

Image
  2016, saya mulai menggarap "Drama Bumi, Skenario Langit" yang awalnya berupa potongan-potongan cerita dari kisah beberapa teman yang akhirnya saya satukan. Mandek. Karena waktu itu takdir bergulir dan membuat saya berubah haluan ke majelis baru. Sehingga menceritakan kembali kisah teman-teman lama rasanya sudah tak berselera.  Di tahun ini pula Allah takdirkan saya memulai ta'aruf. Yang dengannya saya memulai "Titian menuju Halal". Namun, lagi-lagi gagal. Karena hati ternyata tak menemui tambatan. Saya dan pak dokter tak berjodoh. Tapi, project tersebut bagi saya belum selesai. Karena kisah saya terus berlanjut. Diperkenalkan si anu si ini si itu. Hingga dipenghujung 2019, saya bahagia sekali. "Titian menuju Halal" hampir kelar meski baru mentah dalam bentuk jurnal harian, catatan ta'aruf yang saya tulis dan update setiap saat dari bulan Juli hingga November. Kegagalan inilah yang membuat saya berubah drastis. Terlalu menyakitkan. Teramat terluka...

Sebuah Surat #5

Image
10 Januari 2020 Wa'alaikum salam Kau memang selalu terlambat. Bahkan kini sangat terlambat. Suratmu baru sampai setelah 3 tahun. Lalu, aku harus bagaimana? Menunggumu di bandara seperti tahun-tahun yang menyedihkan itu? Aku bertahan tidak sebentar. Tapi kau tak pernah sekalipun memberi penjelasan dan kejelasan.  3 tahun lalu aku bertemu lelaki biasa. Sangat biasa bahkan. Tidak sepintar dirimu, tidak setampan dirimu, tidak semenarik dirimu ketika berbicara, tidak sepandai dirimu merangkai kata-kata manis, sungguh sangat biasa jika dibandingkan kau. Tapi dia punya satu hal yang tidak kau punya. Dia tidak terlambat. Dia tidak membiarkanku menunggu. Dia melamarku di hari wisuda S2ku. Kami menikah tepat di hari dimana kau pergi dan memintaku menunggu 3 tahun lagi.  Kau terlambat. Waktu dan kesempatan tak memihak padamu yang sempurna. Satu hal bisa kutulis sebagai pelajaran di surat ini, yang memiliki segalanya akan dikalahkan oleh yang biasa saja hanya dengan satu hal. Kesempatan. ...

Sebuah Surat #4

Image
Kota Kita, 2 Oktober 2017 Assalamu 'alaikum  Nay, surat yang kemarin sepertinya belum terbaca. Saya mengirimkannya berkali-kali di emailmu, tapi sepertinya kamu sudah mengganti alamat email. Saya harus mengirimkannya kemana, Nay? Alamat lamamu juga ternyata sudah tak berpenghuni. Saya benar-benar kehilangan kamu, Nay. Kontak teman-teman lama juga tak ada yang tahu kabarmu.  Besok saya akan berangkat lagi ke Aussie. Saya dapat kontrak disana 3 tahun. Saya sangat berharap ketika pulang kamu sudah bisa kutemui.  Salam cinta dan Rindu yang tak terbendung, Akhsa.

Aisyah dan kakeknya

Image
Pendidikan bagi seorang anak harus dimulai sejak dini (bahkan sejak dalam kandungan). Pun saya menyadari itu. Tapi terkadang Memberi nasihat kepada orang lain ternyata lebih mudah ketimbang mempraktekkannya pada kehidupan sendiri. Inginnya mendidik dengan lemah lembut, tapi justru yang keluar dari lisan adalah amarah. Meski belum memiliki anak sendiri, namun profesi saya mendekatkan saya dengan dunia anak-anak. Begitu pula ketika saya harus kembali ke kampung halaman, saya harus berhadapan setiap harinya dengan satu ponakan yang sangat "pintar". Aisyah namanya. Si kecil yang berumur 3 tahun ini saya tinggal ketika masih belum mampu berkata-kata. Tetapi setelah satu tahun akhirnya bertemu lagi, dia sudah memiliki banyak kosa kata. Dari bahasa daerah hingga bahasa Indonesia. Dari kata berkonotasi buruk hingga yang baik. Dia seperti keponakan saya yang lain, orang dewasa terperangkap di tubuh anak kecil. Sok tahu, kritis, dan banyak tanya.  Orang di rumah ; Ibu, Ayah, paman, dan...

About Niqab

Image
Suatu hari, datanglah salah seorang saudari fillah ke rumah. Kami baru bertemu lagi setelah setahun lebih. Alhamdulillah, Allah beri kemudahan untuknya memakai niqab. Sambil bercerita tentang kisah warna warninya hingga di ACC oleh ibu bapaknya, saya menangis haru. Sekaligus sedih yang cukup dalam. Matanya ikut berkaca sambil menguatkan saya. "Yang sabar ukh, suatu saat Allah pasti bolak balikkan hatinya". Saya mengusap mata dengan ujung kerudung. Sungguh pahit sekali sebuah kenyataan hidup. Dimana kamu harus berjuang taat di tengah lingkungan buruk dan tak ada yang mendukung. Ujian ini sudah 4 tahun tak kunjung usai. Masih itu-itu saja.  Yang lebih menyakitkan adalah ketika ada orang yang justru diberi kemudahan untuk memakainya, tetapi setelah dipakai dibuka lagi, seperti tak ada harga. Sungguh pada detik saya mengetik ini, dan memposting beberapa kalimat di medsos tentang niqab, saya belum juga berhenti menangis. Si cengeng ini, terus saja mengumbar air mata di beberapa tu...

Jelajah alam dan sebuah monolog

Image
Langit biru, arak-arakan awan, hamparan air jernih, gunung hijau, adalah hal yang selalu saya nikmati dalam perjalanan. Senang sekali, kalau berangkat taklim ke LH, menikmati perjalanan dg monolog hati ditemani pemandangan waduk antang yang bikin tidak ingin berpaling (jadi makin rinduu). Atau perjalanan pulang ke Mamuju, yang sepanjang jalan Sulawesi barat kebanyakan gunung, lembah, dan laut biru. Ada yang suka dengan perjalanan seperti saya atau malah jadi tidak betah duduk berlama-lama di atas kendaraan? Hal lain yang membuat saya dalam perjalanan adalah berbicara dengan diri sendiri atau bermonolog. Kadang, justru bisa bikin puisi satu tema hingga sampai ke tempat tujuan.  Bagi saya, tujuannya jadi tak begitu penting. Karena saya menikmati proses perjalanannya. Deru angin, klakson kendaraan, lalu lalangnya manusia dengan segala macam aktivitas, atau apapun yang bisa saya lihat ketika dalam perjalanan. Merenungi banyak hal. "Ternyata orang nyari rezeki banyak caranya", ...